Lembaga Informasi Perburuhan Sedane

Sedane Labour Resource Center

Thursday
Mar 11th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Fauzi Abdullah Pejuang yang Bersahaja

Email Cetak PDF

Minggu, 29 November 2009 | 02:56 WIB

Jakarta, Kompas - Fauzi Abdullah, aktivis yang konsisten dalam gerakan penyadaran hak-hak buruh, meninggal dunia di Bogor, Sabtu (28/11). Ozi, demikian rekan-rekannya memanggil, dimakamkan kemarin.

Sebelum dimakamkan, mantan anggota Lembaga Bantuan Hukum yang kemudian memimpin Lembaga Informasi Perburuhan Sedane dan menjadi evaluator di Resource Management and Development Consultant (Remdec) itu disemayamkan di rumah duka di Jalan Sedane Gang Banjar, Empang, Bogor.

Ozi lahir di Bogor, 15 November 1949. Ia menikah dengan Dwi Purwanti tahun 2000. Hingga meninggal, lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu masih bergiat di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) sebagai Ketua Dewan Federasi. Ozi yang selalu tampil bersahaja juga kerap mendiskusikan sajak-sajak dan buku sastra bersama rekan-rekannya.

Koordinator Kontras Usman Hamid mengungkapkan rasa kehilangannya. Menurut dia, Ozi berperan besar dalam membangun sistem organisasi yang lebih demokratis di Kontras.

”Bang Ozi yang memfasilitasi perubahan Kontras dari yayasan menjadi federasi, sekitar tahun 2002 hingga 2004. Termasuk berperan besar dalam pembenahan internal dan eksternal Kontras,” kata Usman.

Meski perannya sedemikian besar, dia lebih banyak di balik layar. Bagi Usman, almarhum setia dengan hal-hal yang dilakukan, di antaranya mendorong transformasi sosial. ”Juga mendampingi kaum buruh di masa Orde Baru,” ujar Usman.

Nursyahbani Katjasungkana mengenang mulai bekerja sama dengan Ozi tahun 1980, saat pertama kalinya masuk LBH.

Ketika itu, Ozi yang sudah lebih dulu di LBH memegang bagian nonlitigasi. ”Fauzi Abdullah adalah guru bagi saya dalam mengenalkan pentingnya peningkatan kesadaran hukum masyarakat,” kata Nursyahbani.

Ozi, kata Nursyahbani, bukan hanya sebagai pemikir dan perumus yang membicarakan konsep bantuan hukum dan penyadaran masyarakat, namun juga mampu mengimplementasikannya. ”Saya beruntung memperoleh banyak hal dari dia. Konsep bantuan hukum itu saya terapkan di LBH-APIK,” ujar Nursyahbani, mantan anggota DPR RI yang kini menjadi Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK).

Nursyahbani dengan suara tercekat mengatakan, ia teringat puisi karya Chairil Anwar tatkala melihat Ozi terbaring di tempat persemayamannya. Judulnya Nisan. ”Untuk nenekda. Bukan kematian benar menusuk kalbu. Keridlaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta,” tuturnya. (IDR)

 
Menurut anda sudahkah serikat buruh sekarang memperjuangkan nasib anggotanya?
 

Organisasi Links